PERANCANGAN PENYUTRADARAAN NASKAH LAKON SINAMOT KARYA MAHBUB KURTUBI

Penulis

  • Daniel Raja Kesatria Nainggolan Penciptaan Teater, Program Studi Pengkajian dan Penciptaan Seni Institut Seni Indonesia Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.51804/ijsd.v3i1.868

Kata Kunci:

alienasi, batak toba, brecht, emas kawin, penyutradaraan, pertunjukan, sinamot, teater.

Abstrak

Laporan penyutradaraan naskah lakon Sinamot karya Mahbub Kurtubi merupakan pembahasan suatu proses perancangan artistik dalam pertunjukan teater. Laporan ini menjelaskan proses pementasan pertunjukan teater dengan judul naskah Sinamot, mulai dari alasan memilih permasalahan tentang sinamot (emas kawin) hingga sampai tahap terakhir menuju pementasan. Naskah lakon Sinamot menceritakan tentang perjuangan seorang perempuan bernama Lasma dalam mempertahankan haknya untuk bisa memilih menikah dengan laki – laki pilihannya. Lasma memiliki kekasih yang berprofesi sebagai seniman bernama Ringgas. Ringgas yang berprofesi sebagai seniman merasa kurang percaya diri untuk memberanikan diri melamar Lasma. Penghasilan Ringgas sebagai seniman tidak cukup banyak untuk membayar sinamot (emas kawin) kepada keluarga Lasma. Permasalahan bertambah ketika paman (bapauda) Lasma bernama Godam menjodohkannya dengan laki – laki lain yang lebih mapan. Pergejolakan batin yang dialami Lasma akhirnya memutuskan dia untuk menerima perjodohan tersebut. Tiba saatnya di hari pernikahan, Lasma memutuskan untuk membatalkan pernikahannya. Lasma meninggakan calon suaminya dan pergi dari gereja. Pada akhinya Lasma lebih memilih untuk tidak menikah dari pada harus hidup dengan laki – laki lain dalam keadaan terpaksa. Naskah lakon Sinamot penuh dengan kritik sosial mengenai permasalahan sinamot (emas kawin) pada masa pra pernikahan masyarakat Batak Toba. Batalnya pernikahan sepasang kekasih karena tidak menemukan kata sepakat dalam pembahasan sinamot (emas kawin) sudah sering terjadi. Oleh karena itu pertunjukan ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat agar mampu melihat kondisi sosial yang terjadi di sekitarnya. Untuk mewujudkannya, sutradara menggunakan teknik alienasi Bertold Brecht pada pertunjukan naskah lakon Sinamot. Teknik alienasi Brecht dianggap mampu mewujudkan keinginan sutradara dalam memberikan ruang kepada penonton untuk berpikir kritis pada pertunjukan naskah lakon Sinamot.

The report on the direction of the Sinamot by Mahbub Kurtubi is a discussion of an artistic design process in theater performances. This report describes the process of staging a theater performance with the title Sinamot script, starting from the reasons for choosing the issue of sinamot (emas kawin) to the final stage towards the performance. The Sinamot script tells about the struggle of a woman named Lasma in defending her right to be able to choose to marry a man of her choice. Lasma has a lover who works as an artist named Ringgas. Ringgas, who works as an artist, doesn't feel confident enough to dare to apply for Lasma. Ringgas’s salary as an artist is not enough to pay for sinamot (emas kawin) to Lasma's family. The problem grew when Lasma's uncle (bapauda) named Godam arranged a marriage between him and another, more stable man. The inner turmoil that was experienced by Lasma finally decided him to accept the match. It was time for the wedding day, Lasma decided to cancel the wedding. Lasma left her future husband and left the church. In the end, Lasma prefers not to marry rather than live with other men under coercion. The Sinamot script is full of social criticism regarding the issue of sinamot (emas kawin) during the pre-wedding period of the Batak Toba community. The cancellation of the marriage of two lovers because they did not find an agreement in the discussion of sinamot (emas kawin) has often happened. Therefore, this show aims to make people aware of the social conditions that occur around them. To make it happen, the director used Bertold Brecht's alienation technique in the Sinamot script. Brecht's alienation technique is considered capable of realizing the director's desire to provide space for the audience to think critically at the Sinamot script..

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Anirun, Suyatna. (2002). Menjadi Sutradara, Bandung : STSI.

Dahana, Radhar Panca. (2000). Ideologi Politik Dan Teater Modern Indonesia, Magelang : Indonesia Tera.

Dimyati, Ipit Saefidier. (2010). Komunikasi Teater Indonesia, Bandung : Kelir.

Hasanudin. (2009). Drama Karya dalam Dua Dimensi, Bandung : Angkasa.

Purba, Krismus. (2002). Opera Batak Tilhang Serindo: Pengikat Budaya Emasyarakat Batak Toba di Jakarta, Yogyakarta : Kalika.

Riantiarno. N. (2011). Kitab Teater : Tanya Jawab Seputar Seni Pertunjukan, Jakarta : GRASINDO

Santosa, Eko. (2008). Seni Teater, Jakarta : Dikmenjur.

Susantono, Nurul P. (2016). Produksi Drama Musikal, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Vergouwen, J. C. (2004). Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba, Yogyakarta : LKiS.

Waluyo, Herman J. (2001). Drama : Teori dan Pengajarannya, Yogyakarta : PT Hanindita Graha Widya.

Yudiaryani. (2002). Panggung Teater Dunia “Perkembangan dan Perubahan Konvens”. Yogyakarta : Pustaka Gondho Suli.

Diterbitkan

2021-02-01

Terbitan

Bagian

Articles